Mengajar adalah hobby saya sejak dulu. Kalau tidak, manamungkin saya
berani mengambil jurusan keguruan saat kuliah dulu. Menghadapi perilaku
anak yang berbeda memberikan warna tersendiri yang terkadang membuat
saya lupa bahwa ada masalah yang merudung saya.Tapi lantas jika akhirnya
saya kemudian memutuskan untuk keluar dari pekerjaan saya sekarang,
bukan berarti saya sudah tidak mencintai profesi saya. Mungkin banyak
yang mengira saya sudah gila. Memutuskan untuk resign ketika rekan kerja
sudah mulai mempercayai kemampuan saya. Mungkin selain gila, banyak
yang mengatakan saya sombong karena telah menghentikan jalan menuju
profesi yang diidamkan hampir sebagian besar masyarakat Indonesia, jadi PNS.
Tetapi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu. Jauh dari
lubuk hati yang paling dalam, tiba-tiba saya merasa jadi atau tidaknya
saya menjadi PNS tidak akan ada artinya kalau saya memaksakan diri
mengerjakan pekerjaan saya dengan tanpa disertai passion dan semangat
melakukannya.
Sempat saya bertanya.
Bagaimana mungkin sebuah passion atau hobby itu bisa hilang? Kalau bisa
hilang, pantaskah itu disebut passion?
Percayalah, ada masa dimana kita dalam melakukan sesuatu mengalami sebuah limitation.
Ambang batas. Entah itu batas waktu, batas kreatifitas atau malah
batas kesabaran! Apa yang awalnya kita lakukan dengan senang hati,
tiba-tiba berubah menjadi tidak lagi menyenangkan untuk dilakukan karena
begitu banyak keterbatasan dalam memaksimalkan kemampuan yang kita
miliki. Buang-buang energi sekali. And I’m too tired for that.
Saya tidak mau terlalu lama menjadi orang yang berpura-pura seolah-olah
semua baik-baik saja, tetapi di belakang berbicara sebaliknya. Menurut
saya, bekerja itu adalah ibadah. Untuk apa kita tetap beribadah, kalau
kita masih selalu saja melakukah hal-hal yang negatif, misalnya
membicarakan kejelekan pimpinan kita, ketidakjujuran dalam bekerja atau
malah mencela berbagai kebijakan lembaga yang ‘membayar’ kita? Itu sama
saja seperti kalau kata teman saya bilang, ibarat “meludah di sumur yang
airnya kita minum sendiri”.
Beberapa orang teman sempat
mengira saya sudah memiliki pekerjaan di tempat lain dengan gaji yang
jauh lebih besar. Saya sih hanya mengamini saja. Saya anggap itu sebuah
doa. Karena pada kenyataannya, saya tidak akan ngantor dimana-mana.
Pertama, karena saya masih enggan bertemu lagi dengan yang namanya office hour.
^_^. Kedua, karena tanpa saya sadari, otak dan hati saya langsung
bergerak tanpa diminta, untuk mencari berbagai passion baru untuk segera
diwujudkan seperti akan meneruskan usaha orang tua saya untuk berdagang
karena rasanya mereka cukup tua dan sudah waktunya menikmati waktu
dengan tidak memikirkan pekerjaan. Dan ternyata, banyak sekali yang
ingin saya lakukan! kursus menjahit, menyulam, handcraft, banyak! Saya
sudah pasti tidak akan meninggalkan dunia mengajar secara penuh. Ibarat
sebuah keran air, saya tidak akan menutupnya secara total. Tapi saya
ingin membuka keran yang baru yang sama serunya.
Saya
masih ingin memaksimalkan kemampuan untuk menjadi pengajar yang lebih
baik, bahkan saya masih ingin kembali lagi belajar agama, kajian yang
selama ini sudah saya lupakan. Terdengar lebai, ya? Hehehe. Tapi dengan
memberikan waktu lebih bagi hati dan otak saya untuk saling
berkomunikasi seperti sekarang ini, saya jadi semakin tahu betapa banyak
hal dan kreatifitas yang bisa saya lakukan dibanding hanya berkutat
dengan jam kerja dan rutinitas harian seperti yang selama ini saya
lakukan. Begitu banyak possibilities di dunia ini yang sayang kalau
hanya dilalui dengan begitu-begitu saja.
Itulah kenapa, saya
berani untuk membuat keputusan itu. Saya yakin, ketika kita sudah jujur
dengan diri kita sendiri, pasti akan dimudahkan jalan. Saya yakin, wherever we go, if we keep bring our own sunshine,
kita akan bisa membuat setiap tempat yang kita datangi menjadi
menyenangkan. Orang-orang pertama yang saya ceritakan tentang keputusan
saya itu, semuanya justru sangat mendukung dan bersedia membantu apapun
yang saya butuhkan walaupun sampai sekarang saya bahkan belum bisa
menunjukkan hasil dari keputusan saya itu. Apakah saya akan jauh lebih
sukses dari sekarang, atau sama saja, atau malah lebih parah : gagal
total. Tapi mereka melihat sebaliknya. Keberanian untuk membuat sebuah
keputusan itu somehow jauh lebih terasa berharga . Tinggal bagaimana nanti kelanjutannya, itu satu hal yang lain lagi.
Saya
pikir, ini semua memang rencana Allah untuk saya. Setiap orang pasti
memiliki masa-nya masing-masing untuk membuat sebuah keputusan besar
dalam hidupnya. Dan untuk saya, mungkin saat itu adalah sekarang. Tidak
usah takut. Rejeki itu ada dimana-mana. Dan rejeki Allah itu tidak akan
pernah batal. Biasanya, hanya tertunda saja datangnya. Karena untuk
semua hal, ada waktunya masing-masing. Percaya saja, kalau kita
meminta, Allah pasti memberi. Itulah kenapa kita berdoa, bukan? Namun
jangan lupa, inti dari berdoa sebenarnya bukan hanya meminta. Kita
meminta, tetapi juga melakukan segala usaha untuk bisa mewujudkannya.
Saya
ingat sekali, dua tahun lalu saya memutuskan untuk bergabung di tempat
saya bekerja ini, karena saya melihat adanya kesempatan dan saya merasa
dimudahkan sekali oleh Allah tempat mengajar saya hanya berjarak sekitar
20 meter dari rumah dan sangat diidam-idamkan oleh orang lain.
Menyesalkah saya bekerja selama 2 tahun ini disana? Sama sekali tidak.
Bangga bisa mencoba menjadi bagian sebuah lembaga yang bergengsi di
sini. Banyak pengalaman-pengalaman lain yang saya dapatkan. Dapat teman
baru, keluarga baru adalah salah satu yang sangat saya syukuri. Walau
dari berbagai sisi pencapaian kinerja mungkin belum maksimal, tetapi
buat saya, itu bukan sebuah kegagalan. Because I simply don’t believe in a failure. It’s not a failure if we enjoyed all the process.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar