Jumat, 19 Juli 2013

Wherever we go, keep bring our own sunshine!

Mengajar adalah hobby saya sejak dulu. Kalau tidak, manamungkin saya berani mengambil jurusan keguruan saat kuliah dulu. Menghadapi perilaku anak yang berbeda memberikan warna tersendiri yang terkadang membuat saya lupa bahwa ada masalah yang merudung saya.Tapi lantas jika akhirnya saya kemudian memutuskan untuk keluar dari pekerjaan saya sekarang, bukan berarti saya sudah tidak mencintai profesi saya. Mungkin banyak yang mengira saya sudah gila. Memutuskan untuk resign ketika rekan kerja sudah mulai mempercayai kemampuan saya. Mungkin selain gila, banyak yang mengatakan saya sombong karena telah menghentikan jalan menuju profesi yang diidamkan hampir sebagian besar masyarakat Indonesia, jadi PNS. Tetapi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu. Jauh dari lubuk hati yang paling dalam, tiba-tiba saya merasa jadi atau tidaknya saya menjadi PNS tidak akan ada artinya kalau saya memaksakan diri mengerjakan pekerjaan saya dengan tanpa disertai passion dan semangat melakukannya.

Sempat saya bertanya. Bagaimana mungkin sebuah passion atau hobby itu bisa hilang? Kalau bisa hilang, pantaskah itu disebut passion?
Percayalah, ada masa dimana kita dalam melakukan sesuatu mengalami sebuah limitation. Ambang batas. Entah itu batas waktu, batas kreatifitas atau malah batas kesabaran!  Apa yang awalnya kita lakukan dengan senang hati, tiba-tiba berubah menjadi tidak lagi menyenangkan untuk dilakukan karena begitu banyak keterbatasan dalam memaksimalkan kemampuan yang kita miliki.  Buang-buang energi sekali. And I’m too tired for that. Saya tidak mau terlalu lama menjadi orang yang berpura-pura seolah-olah semua baik-baik saja, tetapi di belakang berbicara sebaliknya. Menurut saya, bekerja itu adalah ibadah. Untuk apa kita tetap beribadah, kalau kita masih selalu saja melakukah hal-hal yang negatif, misalnya membicarakan kejelekan pimpinan kita, ketidakjujuran dalam bekerja atau malah mencela berbagai kebijakan lembaga yang ‘membayar’ kita? Itu sama saja seperti kalau kata teman saya bilang, ibarat “meludah di sumur yang airnya kita minum sendiri”.
Beberapa orang teman sempat mengira saya sudah memiliki pekerjaan di tempat lain dengan gaji yang jauh lebih besar. Saya sih hanya mengamini saja. Saya anggap itu sebuah doa. Karena pada kenyataannya, saya tidak akan ngantor dimana-mana. Pertama, karena saya masih enggan bertemu lagi dengan yang namanya office hour. ^_^. Kedua, karena tanpa saya sadari, otak dan hati saya langsung bergerak tanpa diminta, untuk mencari berbagai passion baru untuk segera diwujudkan seperti akan meneruskan usaha orang tua saya untuk berdagang karena rasanya mereka cukup tua dan sudah waktunya menikmati waktu dengan tidak memikirkan pekerjaan. Dan ternyata, banyak sekali yang ingin saya lakukan! kursus menjahit, menyulam, handcraft, banyak!  Saya sudah pasti tidak akan meninggalkan dunia mengajar secara penuh. Ibarat sebuah keran air, saya tidak akan menutupnya secara total. Tapi saya ingin membuka keran yang baru yang sama serunya.

Saya masih ingin memaksimalkan kemampuan untuk menjadi pengajar yang lebih baik, bahkan saya masih ingin kembali lagi belajar agama, kajian yang selama ini sudah saya lupakan. Terdengar lebai, ya? Hehehe. Tapi dengan memberikan waktu lebih bagi hati dan otak saya untuk saling berkomunikasi seperti sekarang ini, saya jadi semakin tahu betapa banyak hal dan kreatifitas yang bisa saya lakukan dibanding hanya berkutat dengan jam kerja dan rutinitas harian seperti yang selama ini saya lakukan. Begitu banyak possibilities di dunia ini yang sayang kalau hanya dilalui dengan begitu-begitu saja.
Itulah kenapa, saya berani untuk membuat keputusan itu. Saya yakin, ketika kita sudah jujur dengan diri kita sendiri, pasti akan dimudahkan jalan. Saya yakin, wherever we go, if we keep bring our own sunshine, kita akan bisa membuat setiap tempat yang kita datangi menjadi menyenangkan. Orang-orang pertama yang saya ceritakan tentang keputusan saya itu, semuanya justru sangat mendukung dan bersedia membantu apapun yang saya butuhkan walaupun sampai sekarang saya bahkan belum bisa menunjukkan hasil dari keputusan saya itu. Apakah saya akan jauh lebih sukses dari sekarang, atau sama saja, atau malah lebih parah : gagal total. Tapi mereka melihat sebaliknya. Keberanian untuk membuat sebuah keputusan itu somehow jauh lebih terasa berharga . Tinggal bagaimana nanti kelanjutannya, itu satu hal yang lain lagi.

Saya pikir, ini semua memang rencana Allah untuk saya. Setiap orang pasti memiliki masa-nya masing-masing untuk membuat sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Dan untuk saya, mungkin saat itu adalah sekarang. Tidak usah takut. Rejeki itu ada dimana-mana. Dan rejeki Allah itu tidak akan pernah batal. Biasanya, hanya tertunda saja datangnya. Karena untuk semua hal, ada waktunya masing-masing. Percaya saja, kalau kita meminta, Allah pasti memberi. Itulah kenapa kita berdoa, bukan? Namun jangan lupa, inti dari berdoa sebenarnya bukan hanya meminta. Kita meminta, tetapi juga melakukan segala usaha untuk bisa mewujudkannya.


Saya ingat sekali, dua tahun lalu saya memutuskan untuk bergabung di tempat saya bekerja ini, karena saya melihat adanya kesempatan dan saya merasa dimudahkan sekali oleh Allah tempat mengajar saya hanya berjarak sekitar 20 meter dari rumah dan sangat diidam-idamkan oleh orang lain. Menyesalkah saya bekerja selama 2 tahun ini disana? Sama sekali tidak. Bangga bisa mencoba menjadi bagian sebuah lembaga yang bergengsi di sini. Banyak pengalaman-pengalaman lain yang saya dapatkan. Dapat teman baru, keluarga baru adalah salah satu yang sangat saya syukuri. Walau dari berbagai sisi pencapaian kinerja mungkin belum maksimal, tetapi buat saya, itu bukan sebuah kegagalan. Because I simply don’t believe in a failure. It’s not a failure if we enjoyed all the process.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar