Apa cuma saya yang pas sahur iseng banget nyalain televisi sekedar nonton lawak pukul-pukulan, main siram tepung, saling menghina fisik antar pelawak? Saya gak tau lucunya dimana, tapi ya tetep aja di tonton buat sekedar di komentarin misalnya..he! Kadang-kadang suka mikir, sejak kapan ya penderitaan orang lain jadi bahan tertawaan, sejak kapan menghina fisik orang lain jadi bahan lelucon?
" pemainnya udah pada ikhlas kok digituin, namanya juga kerjaan...."
oke! tapi pernah mikir gak gimana dampaknya untuk yang nonton? apalagi kalau yang nonton masih anak-anak. Ngeri deh rasanya, anak-anak gampang banget terpengaruh.
Kemarin sempet baca artikel yang isinya KPI, memberi peringatan untuk acara sahur di beberapa stasiun televisi.
Komisi Penyiaran Indonesia Pusat memberikan teguran tertulis untuk acara-acara Ramdhan di televisi. Program acara tersebut adalah Hafidz Indonesia RCTI, Sahurnya OVJ Trans 7, Sahurnya Pesbukers ANTV, dan Yuk Kita Sahur Trans 7.
Pada Program “Hafidz Indonesia” (selanjutnya disebut program) yang ditayangkan oleh stasiun RCTI pada tanggal 9 Juli 2013 pada pukul 14.54 WIB. Pelanggaran yang dilakukan program adalah penayangan secara close up seorang anak yang tampak buang air kecil saat ia menjadi peserta program tersebut. Kamera menyorot celana anak tersebut yang tampak basah. Jenis pelanggaran ini dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap perlindungan anak dan norma kesopanan.
Pada Program Siaran “Sahurnya Pesbukers” (selanjutnya disebut program) yang ditayangkan oleh stasiun ANTV pada 10 Juli 2013 mulai pukul 01.56 WIB. Pelanggaran yang dilakukan adalah penayangan adegan yang melecehkan orang dan/atau masyarakat dengan kondisi fisik tertentu serta pelanggaran terhadap norma kesopanan. Adegan-adegan tersebut adalah:
- Sapri berkata kepada Andika yang menggendong Daus Mini “Tadi gue lihat lu bawa monyet tiga, sekarang tinggal satu”.
- Eko berkata tentang Daus Mini, “Ganteng-ganteng dibilang monyet… Itu bukan monyet … (tapi) nying-nying”.
- Eko menyebut Daus Mini, “Ini bukan catur. Ini biji congklak”.
- Andhika berkata kepada Eko, “Daus kalo lihat ini suka sedih (sambil menunjuk corong). Inget zaman lahirnya dulu. Nyokapnya nggak nyampe ke bidan akhirnya lahirnya pake corong jadinya keluarnya kecil”.
- Andhika berkata kepada Gading tentang Daus, “Dia bingung. Orang dari dulu ngga pernah gede, kok lu tanyain kalo udah gede mau jadi apa?” Gading menyambung, “Daus kalau tetap kecil mau jadi apa?”
- Andhika berkata tentang Daus, “Daus itu hidupnya sial banget ya! Udah tua, kecil, ketiban banci lagi.”
Pada Program Siaran “Sahurnya Pesbukers” (selanjutnya disebut program) yang ditayangkan oleh stasiun ANTV pada 10 Juli 2013 mulai pukul 01.56 WIB. Pelanggaran yang dilakukan adalah penayangan adegan yang melecehkan orang dan/atau masyarakat dengan kondisi fisik tertentu serta pelanggaran terhadap norma kesopanan. Adegan-adegan tersebut adalah:
- Sapri berkata kepada Andika yang menggendong Daus Mini “Tadi gue lihat lu bawa monyet tiga, sekarang tinggal satu”.
- Eko berkata tentang Daus Mini, “Ganteng-ganteng dibilang monyet… Itu bukan monyet … (tapi) nying-nying”.
- Eko menyebut Daus Mini, “Ini bukan catur. Ini biji congklak”.
- Andhika berkata kepada Eko, “Daus kalo lihat ini suka sedih (sambil menunjuk corong). Inget zaman lahirnya dulu. Nyokapnya nggak nyampe ke bidan akhirnya lahirnya pake corong jadinya keluarnya kecil”.
- Andhika berkata kepada Gading tentang Daus, “Dia bingung. Orang dari dulu ngga pernah gede, kok lu tanyain kalo udah gede mau jadi apa?” Gading menyambung, “Daus kalau tetap kecil mau jadi apa?”
- Andhika berkata tentang Daus, “Daus itu hidupnya sial banget ya! Udah tua, kecil, ketiban banci lagi.”
sumber: http://news.fimadani.com/read/2013/07/19/kpi-pusat-berikan-teguran-acara-acara-ramadhan-di-tv/Pada Program Siaran “Yuk Kita Sahur” (selanjutnya disebut program) yang ditayangkan oleh stasiun Trans TV pada tanggal 12 Juli 2013 mulai pukul 01.57 WIB. Pelanggaran yang dilakukan adalah penayangan adegan yang melecehkan orang dan/atau masyarakat dengan kondisi fisik tertentu, pekerjaan tertentu serta orientasi seks dan indentitas gender tertentu, dan pelanggaran terhadap norma kesopanan. Adegan-adegan tersebut adalah:
- Wendi menari dan menyanyi dengan pakaian perempuan sambil memainkan lidah. Deni kemudian berkata kepada Wendi, “Lu jangan sok cantik ye. Dandanan lu kaya biduan pantura.” Wendi menjawab, “…kalau saya kayak biduan pantura, abang godain saya berarti abang supir truk.”
- Deni berkata kepada Olga, “Lu ngeliat burung malah demen…, ajak ngobrol, lu piara”.
- Olga menyebut Adul “burung cebol”.
- Olga mengolok-olok penonton wanita yang bergigi tonggos, menyamakannya dengan paruh boneka burung. Kemudian Wendi bertanya tentang perempuan tersebut, ”Eh jadi itu burung yang selama ini ngerusak padi gua?” Olga menjawab “Itu burung paling enak kalau makan kuaci. Makan kuaci ambil brek..” Olga kemudian memperagakan memakan dengan menonggoskan giginya.
- Olga berkata kepada Jeremi Teti, “Udah tua masih ngondek aja”.
tuuuuuhkaaaaaaaaaan ngeri banget lawakan mereka! padahal itu cuma sebagian kecil yang disebutkan karena buanyak banget pelanggaran. Ya iyalaaah orang sepanjang acara mereka kerjaannya kalau gak cela-celaan ya main fisik. Tapi peringatan tinggalah peringatan..buktinya barusan saya nonton lagi masih sama-sama aja gak da perubahan. Karena memang kuncinya sebenarnya ada pada kita selaku penonton. Kalau rating penontonnya tinggi ya pihak stasiun televisi seneng donk, makanya suruh lanjut aja.
Kita harusnya sekarang lebih pintar dalam memilih tontonan terutama untuk anak-anak. Dampaknya memang tidak terasa secara langsung, tapi akan mulai terlihat saat dia bergaul di masyarakat. Saat saya masih mengajar dulu, siswa-siswa seolah tanpa beban terbiasa mendiskriminasi teman-temannya yang memiliki kekurangan dari segi fisik misalnya. yang menyebabkan anak tersebut minder dan semakin tidak percaya diri.
Jangan biarkan rasa empati dan saling menghargai menguap menghilang begitu saja dari diri anak-anak kita atau bahkan diri kita sendiri. Ini bukan untuk acara sahur saja, masih banyak tontonan aneh lainnya. Sinetron remaja , cerita anak-anak yang mulai gak masuk akal, banyak lah.
Kita harusnya sekarang lebih pintar dalam memilih tontonan terutama untuk anak-anak. Dampaknya memang tidak terasa secara langsung, tapi akan mulai terlihat saat dia bergaul di masyarakat. Saat saya masih mengajar dulu, siswa-siswa seolah tanpa beban terbiasa mendiskriminasi teman-temannya yang memiliki kekurangan dari segi fisik misalnya. yang menyebabkan anak tersebut minder dan semakin tidak percaya diri.
Jangan biarkan rasa empati dan saling menghargai menguap menghilang begitu saja dari diri anak-anak kita atau bahkan diri kita sendiri. Ini bukan untuk acara sahur saja, masih banyak tontonan aneh lainnya. Sinetron remaja , cerita anak-anak yang mulai gak masuk akal, banyak lah.
Seleksi apa yang anda atau anak-anak anda tonton dan batasi frekuensi menonton televisi sehari maksimal 1,5 jam.
Semoga penonton Indonesia semakin lebih cerdas....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar