Pagi itu sarapan tidak lagi menjadi hal menarik saat ditengah suapan demi suapan tiba-tiba masuk pesan dari suami mengabarkan beliau sedang rehat dari pendidikannya. Dengan sapaan khasnya "hai cewe.." dia katakan dia sehat dan waktu istirahatnya hanya sampai jam 1 siang.
Tanpa menunggu, dengan tangan gemetar aku tekan nomornya mau telepon. guprakk! HP malah jatoh dan mati..errrgghh, pengen nangis, nunggu nyala lagi rasanya lamaa...
Telepon tersambung, mendengar suara salam darinya yang agak parau dan serak, Ya Allah..aku hanya bisa menangis, tangis rindu dan rasa lega yang hanya bisa aku ungkap dengan air mata. Satu menit pertama aku habiskan dengan menangis, kata2nya yang pertama kali keluar adalah "abah sehat bu, beneran deh, lecet sedikit tapi udah kering, tau gak Celana abah longgar banget loh bu, merosot terus..hehe.
Di telpon kami bercerita begitu banyak..tentang aku di sini tanpa dia, dan tentang peristiwa2 yang dia alami selama pendidikan.
Hari pertama upacara pelepasan dia lewati dengan gagah, katanya jika ada posting foto bersama cari abah dibaris satu atau dua. Hehe..sudah kuduga, karna suami tidak terlalu tinggi, tapi tetep keren donk..
Longmarch ke Situ Lembang
Alhamdulillah tak ada masalah dengan kaki, namun dehidrasi memperlambatnya. Minum sebanyak apapun percuma karna pandangannya sudah kabur dia berjalan tertatih. Teman satu regu mendorong dan terus memapahnya, namun lama kelamaan dia menyadari itu hanya menambah kesulitan akhirnya dia memilih berhenti dan membiarkan teman satu regunya berjalan duluan.
Saat hampir terlelap tidur di tengah perjalanan pelatih menghampirinya berteriak,
"WOY!! BANGUN! MAU MATI DISINI KAMU!!"
Teriakan memekakan telinga bahkan tak berpengaruh karena badan sudah lemas. Karna khawatir, para pelatih memberikan oralit akhirnya tenganya mulai pulih. Perjalan ternyata tidak menjadi mudah, dehidrasi dan beban tas dipunggung membuat kram berkepanjangan di paha tepat di atas lutut. Tiap melangkah beberapa meter kram, stop, jalan lagi, kram, stop lagi..begitulah terus hingga akhirnya bisa bernafas lega saat memasuki kawah upas. Oh iya dia menjadi jajaran peserta yang lamban tertatih di belakang bersama kang Ferry, kang Tito dan lupa satu lagi yang berjanggut agak tebal katanya diikuti ambulan..haha.
Sampai di kawah upas, persediaan air di vedplesnya habis, mau gak mau dengan ragu dan agak takut dia minta ke pelatih.."Lapor! Siap pelatih air saya habis, bisa saya minta pelatih. Laporan selesai!" pikirku tadi pas denger ya elah minta air aja mesti lapor..hehe tapi ya begitulah PDW, disiplin.
Pelatih gak marah, malah salut karna suamiku berani minta tanpa mengeluh. Saat air diberikan, pelatihnya bilang "kamu udah saya kasi air, balas budi lah, nanti pas upacara penutupan kamu harus masih hadir di sini."
Siap pelatih!
Alhamdulillah setelah perjalan 25 jam, pukul 3 pagi sampai di situ lembang dengan kondisi oke dan alhamdulillah tanpa lecet. Diberi waktu istirahat di bivak yang dibangun sendiri karna mepet, tidurpun duduk sampai pagi.
Hari- Hari di Situ Lembang.
DWARRR!! DWARRR!! DWAAARRRR!!
pagi itu semua peserta yang tidur terbangun kaget. Pagi pertama di situ lembang, mereka dibangunkan dengan ledakan TNT. "soak euy karekeun bom ngajelegur gigireun pisan!" hahahaha
Minggu pertama, tas gak dibawa olah raga. Agendanya pagi bangun dengan TNT meledak dimana2, nyemplung di situ lembang, lari pagi, jalan bebek keliling lapangan trus materi sampai sore, dicemplungin situ lembang lagi, materi sampai jam 11 malam trus istirahat. Begitu terus setiap hari. Saat jalan bebek dia gak berani pake lutut, resikonya ditempeleng dan ngulang dari awal.
Hari pertama udah banyak yang pengen pulang, hari2 berikutnya apalagi karena memang jenuh dan sangat tertekan. Gak boleh ngobrol, becanda sama temen nyuri2 waktu kalo ketahuan dihukum tempeleng. Dari mulai baju harus rapi, topi harus selalu dipake, kalo duduk dan di dalem ruangan dibuka, kalo lupa kena tempeleng. Suamiku pernah katanya pas duduk ya main duduk aja gak buka topi, akhirnya kena tempeleng.
Saat materi, kalo ada yang ketauan nguap langsung ditarik kebelakang disuruh nyelam di situ lembang. Dia pernah ketauan nguap untungnya pelatihnya yang baik, jadi cuma disuruh gigit topi selama materi berlangsung.
Minggu ke dua hari terasa makin berat, setiap olah raga ransel harus dibawa, pelatih makin garang, mental peserta banyak yang kena ingin mundur, kaki banyak yang busuk di vonis medis harus pulang. Setiap mau tidur yang dipikirkan enaknya tidur di rumah trus Si Adi kalo ikut ntar tahun 2016 kuat gak ya dia? Duh..
Setiap ada yang pulang, semua peserta dikumpulkan lalu diminta mendengarkan kata2 terakhir dari yang mau pulang, yang paling sedih saat kang ferry pulang karna mereka cukup dekat. Oh iya ada lho yang pas seleksi dia hasilnya bagus2, tapi kakinya membusuk karna gak telaten rawat kaki, medis mengharuskan pulang.
2hari terakhir di situ lembang, suamiku terpilih jadi Danru. Dia bercerita sambil tertawa katanya saat mau orad dan tebing kan jalan kaki dari situ lembang, di jalan dia tidur sambil jalan karna ngantuk ketauan dan dihukum pelatih. Haha..