Selasa, 26 Agustus 2014

Selamat tanggal 25 Agustus..

Hai ganteng...kamu sedang apa di sana? Sehatkan? Semoga Allah selalu menguatkan jiwamu dan kaki penopangmu baik-baik saja hingga akhir nanti.
Ah iya, tadi malam aku mimpi kamu datang elus-elus pipi bengkakku gara-gara sakit gigi seminggu ini, nyaman rasanya. I really miss you...

Sayang..hari ini tanggal 25 Agustus.
Kamu inget gak?
Hah! Enggak? Duh,
Ya udah gak apa-apa untuk kali ini aku maklum, asal nanti gantinya tanggal 21 September pas aku jemput, kamu harus keren ya.. (titik dua bintang)

Gak terasa jika dihitung mungkin sudah 2.190 hari kita sama-sama dari mulai aku langsing, gendut, langsing lagi, sekarang gendut lagi dan selama itu yang keluar dari mulutmu hanya, "mbu selalu cantik kok.." ah memang dasar kamu pembohong yang selalu membutku senang..

Selamat mengulang tanggal 25 Agustus yang kesekian sayang... Hari dimana tanggung jawab membimbing dan melindungiku beralih sepenuhnya kepadamu.
Terimakasih atas segala kebahagiaan dan kasih sayang yang diberikan selama ini..
Semoga selanjutnya kehidupan akan lebih baik lagi, dengan hadirnya si kecil.. ��
In syaa Allah.

Terimakasih Ya Allah.. Alhamdulillah..

Minggu, 17 Agustus 2014

Ranselnya Ganti Ya.... Siap Pelatih!!



Sabtu  16 Agustus 2014, seperti yang aku ceritakan di tulisan sebelumnya adalah hari pertama ceklist peralatan suami dalam mengikuti PDW 2014. Tadinya sih optimis bakal lolos dan gak ada yang dikoreksi, eh ternyata i’m wrong!! Ranselnya suruh diganti. Pas kutanya kenapa harus diganti, dia cuma bilang menurut pelatihnya dari segi bahan dan kenyamanan kemungkinan besar bisa menghambat nanti saat pelaksanaan. Ya mau gak mau ransel cadangan di rumah harus dianterin ke sana.  
Saat itu juga langsung khawatir, panik gak tau mesti gimana, pengennya marah-marah sama suami, “udah aku bilaaaang, yang merah bawa ajaaa..kenapa gak nurut, nganterin ransel gantinya gimana coba, Ciamis- Bandung kan gak deket. :( (itu ngomong dalem hati ya..)  dan ternyata  solusi nganterinnya gampang banget ya elah.. Saking bingungnya tadi, sampai gak kepikiran kalo ini tahun 2014. Udah banyak jasa pengiriman paket yang lansung nyampe cepettttt...  oke, problem solved!
Sebetulnya masalah ransel dari jauh hari suamiku sudah beli buat PDW, yang menurut ukuranku cukup keren, dari harga, tampilan dan kualitas. Tapi ya gitu dasar laki-laki denger temen-temennya komentar sayanglah kalo dibawa PDW, kebagusan, bisa rusak, bla bla bla... nurutlah dia lalu inisiatif sendiri bikin ransel di tempat temannya dengan custom ukuran dan model sesuai yang dia inginkan. Sebenarnya temannya itu memang pembuat ransel dengan kualitas bagus, banyak ransel yang dibuat dan masih awet sampai tahunan.  Masalanya suamiku pesannya Cuma H-5 pemberangkatan, trus custom sendiri model dan bahannya minta yang ada aja. Untung bisa jadi, tapi ya udah gitu deh hasilnya, gak lolos.

Sekian sekilas kisah tentang ransel yang harus diganti, masih ada yang harus diperbaiki ternyata dari kelengkapan suamiku.. Celana yang gak berkancing, matras yang kurang panjang.. haha.. :D au ahh suruh beli aja itu mah di Bandung... babayyy..

 

Lelakiku dan Impiannya

Geliat segarnya pagi menyambut badan yang mulai enak dan kepala gak berat lagi.. ahh senangnya ^_^

Hari ini hari pertama suami memasuki pendidikannya, kalo gak salah jadwal cek list peralatan. Woh aku yang deg-degan, tapi in syaa Allah yakin lolos..

Pendidikan Dasar Wanadri (PDW)
Selama 40hari ke depan suamiku ikut PDW 2014.
Untuk apa? Ya untuk jadi anggota Wanadri. Biar apa? Aku gak tahu, tapi itu impiannya, impian yang membuat perlahan hidupnya menjadi lebih optimis dan positif. Kamu pernah gak lihat orang yang saat menceritakan sesuatu begitu bersemangat dan matanya berbinar senang? Nah begitulah suamiku setiap dia menceritakan tentang Wanadri.
Aku tak akan bercerita tentang Wanadri di sini, karena tanpa diceritakanpun kamu bisa dengan mudah googling dan menemukan banyak hal menyenangkan tentang Wanadri. Aku lebih tertarik bercerita tentang suamiku.

Tentang lelakiku dan impiannya.
Sekitar bulan Pebruari lalu, gak da angin gak da hujan tiba-tiba dia bilang, "Bu, abah ikut PDW tahun ini ya.." aku cuma jawab terserah karena ya kupikir celoteh aja, toh dia juga lagi fokus sibuk merawat adenya yang masih luka kaki saat Diklat pencinta alam di kampusnya. Intinya, omongannya pagi itu gak aku anggap serius.

Beberapa hari berlalu, dia pulang ke rumah pake sepatu ceko (sepatu boots kulit hitam yang biasa dipake tentara). Kalo sepatu aja langsung beli, aku mulai sadar dia gak main-main. Lalu kami bicara serius tentang itu. Karena buat aku PDW gak gampang, pelaksaannyapun gak sebentar, 40 hari. Materi, mental, fisik benar-benar diuji.
Tapi dia meyakinkan dia bisa, dan toh katanya jika dia gak layak ikut PDW di seleksi masuk nanti dia gak akan lolos. Okelah kalo begitu aku setuju.

Kalian tau??? Sejak saat itu setiap hari dia pake sepatu cekonya. Dia lari tiap pagi, dia long march, dia renang rutin tiap minggunya. Oh my good, aku luluh dan dukung seratus persen.

Tiba minggu seleksi dia berangkat dan aku mewek. Dia seleksi 7 hari. Aku bingung kalo gagal kasian banget usahanya selama ini, kalo lolos aku harus siap ditinggal 40hari.. Akhirnya minta diberi yang terbaik oleh Allah..
Nunggu dari seleksi sampai pengumuman hasil itu sekitar 1 bulan, arrggghh itu rasanya lamaaaa gak sabar!!!

Hari pengumuman tiba, kita standby depan komputer. Dan taraaaaa!!!! Namanya ada di list peserta lolos :D aku jijingkrakkan tapi suami enggak, dia pucat pasi tangan gemeter.. hahahaha...

Ristiani
16 Agustus 2014

Jumat, 15 Agustus 2014

Tata Cara Mandi "Besar" Junub untuk Muslimah

Setiap perempuan yang sudah baligh, tentu saja akan mendapatkan siklus bulanan yang tetap, menstruasi. Selesai menstruasi, seorang Muslimah diwajibkan mandi junub atau masyarakat kita menyebutnya mandi besar. Untuk yang sudah menikah, mandi junub sepertinya hampir tidak mungkin dilakukan satu bulan sekali. Mungkin sepekan sekali, atau bisa saja sehari sekali. Hehe...
Nah, bagaimana seorang Muslimah harus melakukan mandi junub?

Berikut ini, ringkasan tata cara mandi junub seorang Muslimah yang disunnahkan :

1. Niat (Menurut para ulama niat itu tempatnya di hati).

2. Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.

3. Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.

4. Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah (atau lantai) atau dengan menggunakan sabun.

5. Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.

6. Menyiramkan air ke atas kepalanya tiga kali.

7. Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut atau kulit kepala dengan menggosok-gosokkannya dan menyela-nyelanya (Tidak wajib bagi wanita untuk mengurai ikatan rambutnya).

8.  Mengguyur air ke seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.

Sementara untuk mandi karena haidh dan nifas, tata caranya sama dengan mandi junub namun ditambahkan dengan beberapa hal berikut ini:

Pertama: Dianjurkan Menggunakan Sabun.

Hal ini berdasarkan hadis Aisyah radhiallahu ‘anha, yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi wanita haid. Beliau menjelaskan:

“Kalian hendaklah mengambil air dan daun bidara, lalu wudhu dengan sempurna. Kemudian  menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya agak keras hingga mencapai akar rambut kepalanya. Kemudian menyiramkan air pada kepalanya. Kemudian engkau mengambil kapas bermisik, lalu bersuci dengannya.” (HR. Bukhari no. 314 & Muslim no. 332)

Kedua: Melepas gelungan, sehingga air bisa sampai ke pangkal rambut

Hadis di atas merupakan dalil dalam hal ini: “…lalu menggosok-gosoknya agak keras hingga mencapai akar rambut kepalanya..”

Hadis ini menunjukkan tidak cukup dengan hanya mengalirkan air seperti halnya mandi junub, namun harus juga digosok, seperti orang keramas memakai sampo.
Allahu alam

Kamis, 14 Agustus 2014

Syukur

Malam ini terbangun kaget, beberapa hari ini kondisiku memang sedang tidak baik, jadi sering bermimpi yang tidak kusuka. Biasanya aku meludah halus 3 kali ke arah kiri lalu beristighfar sampai terasa tenang.

Kulihat HP pukul 01.00.
Ada notifikasi messenger dari suami yang belum terbaca, ucapan selamat tidur..seperti biasa, manis.

Malam ini, sujudku basah.
Tidak, aku menangis bukan karena sendirian, bukan karena rindu suami, bukan.. Tangisku malam ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas segala anugerah luar biasa yang Allah berikan yang selalu memberi kemudahan dalam hidupku hingga detik ini.

Ya Rabb yang maha membolak balikan hati, terimakasih atas nikmat iman, teguhkanlah hatiku, pijakanlah kakiku lurus dijalan-Mu.

Ya Rabb yang maha mengasihi, terimakasih atas masih hangatnya kecup, atas masih panasnya cinta yang tumbuh semakin kuat antar sesama.

dan terima kasih Ya Allah Penentu Segala Alam, atas detak jantung yang masih berdetak di bawah hatiku.

..Alhamdulillah...

Ristiani
15 Agustus 2014

Day 1 "Hari Keberangkatan"

Malam tadi banyak sekali yang ingin aku katakan tapi mulutku hampir terkunci, yang bisa terucap hanya.."tolong peluk aku sepanjang malam.."

Pagi ini saat akan berangkat, matamu penuh kekhawatiran terhadapku, aku tahu karna matamu yg sedikit berair itu takkan pernah berbohong.
Berulang-ulang kamu katakan kamu menyayangiku..cukup kujawab iya karna aku tak ingin menangis.

Sayang...semoga 40hari ke depan nanti aku bisa melihatmu berdiri dengan gagah di Kawah Upas tanpa kurang satu apapun..

Sebanyak apapun dekap peluk, sesering apapun kecup cium,  selama apapun mempersiapkan diri, berpisah dengan orang terkasih tidak akan pernah jadi mudah..


Ristiani

14 Agustus 2014