Minggu, 21 Desember 2014

:: Tentang Kami dan BPJS


Mendengar keluhan beberapa orang yang bilang pasien dengan bpjs tidak dilayani dengan baik, saya sangat bersyukur. Karena selama menggunakan itu untuk Bapak dan Mamah kami dilayani dengan baik tanpa ada perbedaan.
Sebetulnya dalam keadaan apapun kakak kami selalu ada siap menanggung semua biaya untuk Bapak dan Mamah. Alhamdulillah ala kulli hal. Semoga Allah senantiasa menyayangi dan memudahkan beliau.
Namun bila uang yang dikeluarkan terlalu besar, agar tidak berat kami harus mencari cara meringankannya.
Sejak bulan April 2014 kemarin, mamah dan bapak ikut BPJS.

Awalnya sekitar bulan Januari akhir, Bapak sakit tiba-tiba, setelah diperiksa menurut dokter ada pembengkakan pembuluh ke jantung akibat terlalu lama mengkonsumsi salah satu obat penurun tekanan darah. Kaget? Iya.
Saat berobat jalan, setiap kontrol biaya pengobatan hampir 2 juta per sekali kontrol. Lumayan..
Ada kerabat kami yang sama-sama mengidap jantung menyarankan untuk membuat BPJS, awalnya ragu tapi akhirnya buat karna memang bapak butuh. Alhamdulillah sampai sekarang pengobatan untuk jantung bapak, gratis..

Sekitar bulan September kemarin, mamah yang sakit harus di rawat inap. Kami masuk RS swasta sekitar pukul 21.00 dan mendapat kamar pukul 23.00. Karena kamar inap yang disediakan BPJS kelas 1 di RS tersebut satu kamar berdua dengan pasien lain, kami minta "naik kelas" kamar. 4 malam 3 hari di rawat inap, kami membayar 300ribu (ada lebihnya dikit lupa berapa) itu untuk selisih biaya kamar karna kami minta "naik kelas".
Satu minggu keluar rumah sakit, mamah kembali drop ternyata trombositnya turun. Karna saat itu yang nunggu di RS adalah bapak, jadi kami minta di VIP saja. Dirawat 4hari kami membayar 550ribu untuk selisih kamar juga.

Dan terakhir November bapak di operasi benjolan, pake bpjs juga. Biayanya lebih ringan.

Saya agak sedih dengan orang yang tunjuk hidung saudara sesama muslim yang ikut BPJS lalu mengharamkannya. Bukankah ada beberapa udzur yang membolehkannya. Apalagi berkata kan ada anak-anaknya, kan ada sodaranya, tetangganya, atau saudara sesama yang bisa membantu saat darurat, tak usah ikut begituan. Ya Allah..saya sampai gemeteran bacanya saking kesal..

Bapak dan Mamah ikut BPJS karena memang mereka membutuhkan. Usia yang sudah semakin tua membuat mereka rentan sakit. InsyaAllah kami anak-anaknya akan selalu ada untuk mereka.

Gitulah cerita pengalaman saya dengan BPJS.