Selasa, 26 Agustus 2014

Selamat tanggal 25 Agustus..

Hai ganteng...kamu sedang apa di sana? Sehatkan? Semoga Allah selalu menguatkan jiwamu dan kaki penopangmu baik-baik saja hingga akhir nanti.
Ah iya, tadi malam aku mimpi kamu datang elus-elus pipi bengkakku gara-gara sakit gigi seminggu ini, nyaman rasanya. I really miss you...

Sayang..hari ini tanggal 25 Agustus.
Kamu inget gak?
Hah! Enggak? Duh,
Ya udah gak apa-apa untuk kali ini aku maklum, asal nanti gantinya tanggal 21 September pas aku jemput, kamu harus keren ya.. (titik dua bintang)

Gak terasa jika dihitung mungkin sudah 2.190 hari kita sama-sama dari mulai aku langsing, gendut, langsing lagi, sekarang gendut lagi dan selama itu yang keluar dari mulutmu hanya, "mbu selalu cantik kok.." ah memang dasar kamu pembohong yang selalu membutku senang..

Selamat mengulang tanggal 25 Agustus yang kesekian sayang... Hari dimana tanggung jawab membimbing dan melindungiku beralih sepenuhnya kepadamu.
Terimakasih atas segala kebahagiaan dan kasih sayang yang diberikan selama ini..
Semoga selanjutnya kehidupan akan lebih baik lagi, dengan hadirnya si kecil.. ��
In syaa Allah.

Terimakasih Ya Allah.. Alhamdulillah..

Minggu, 17 Agustus 2014

Ranselnya Ganti Ya.... Siap Pelatih!!



Sabtu  16 Agustus 2014, seperti yang aku ceritakan di tulisan sebelumnya adalah hari pertama ceklist peralatan suami dalam mengikuti PDW 2014. Tadinya sih optimis bakal lolos dan gak ada yang dikoreksi, eh ternyata i’m wrong!! Ranselnya suruh diganti. Pas kutanya kenapa harus diganti, dia cuma bilang menurut pelatihnya dari segi bahan dan kenyamanan kemungkinan besar bisa menghambat nanti saat pelaksanaan. Ya mau gak mau ransel cadangan di rumah harus dianterin ke sana.  
Saat itu juga langsung khawatir, panik gak tau mesti gimana, pengennya marah-marah sama suami, “udah aku bilaaaang, yang merah bawa ajaaa..kenapa gak nurut, nganterin ransel gantinya gimana coba, Ciamis- Bandung kan gak deket. :( (itu ngomong dalem hati ya..)  dan ternyata  solusi nganterinnya gampang banget ya elah.. Saking bingungnya tadi, sampai gak kepikiran kalo ini tahun 2014. Udah banyak jasa pengiriman paket yang lansung nyampe cepettttt...  oke, problem solved!
Sebetulnya masalah ransel dari jauh hari suamiku sudah beli buat PDW, yang menurut ukuranku cukup keren, dari harga, tampilan dan kualitas. Tapi ya gitu dasar laki-laki denger temen-temennya komentar sayanglah kalo dibawa PDW, kebagusan, bisa rusak, bla bla bla... nurutlah dia lalu inisiatif sendiri bikin ransel di tempat temannya dengan custom ukuran dan model sesuai yang dia inginkan. Sebenarnya temannya itu memang pembuat ransel dengan kualitas bagus, banyak ransel yang dibuat dan masih awet sampai tahunan.  Masalanya suamiku pesannya Cuma H-5 pemberangkatan, trus custom sendiri model dan bahannya minta yang ada aja. Untung bisa jadi, tapi ya udah gitu deh hasilnya, gak lolos.

Sekian sekilas kisah tentang ransel yang harus diganti, masih ada yang harus diperbaiki ternyata dari kelengkapan suamiku.. Celana yang gak berkancing, matras yang kurang panjang.. haha.. :D au ahh suruh beli aja itu mah di Bandung... babayyy..

 

Lelakiku dan Impiannya

Geliat segarnya pagi menyambut badan yang mulai enak dan kepala gak berat lagi.. ahh senangnya ^_^

Hari ini hari pertama suami memasuki pendidikannya, kalo gak salah jadwal cek list peralatan. Woh aku yang deg-degan, tapi in syaa Allah yakin lolos..

Pendidikan Dasar Wanadri (PDW)
Selama 40hari ke depan suamiku ikut PDW 2014.
Untuk apa? Ya untuk jadi anggota Wanadri. Biar apa? Aku gak tahu, tapi itu impiannya, impian yang membuat perlahan hidupnya menjadi lebih optimis dan positif. Kamu pernah gak lihat orang yang saat menceritakan sesuatu begitu bersemangat dan matanya berbinar senang? Nah begitulah suamiku setiap dia menceritakan tentang Wanadri.
Aku tak akan bercerita tentang Wanadri di sini, karena tanpa diceritakanpun kamu bisa dengan mudah googling dan menemukan banyak hal menyenangkan tentang Wanadri. Aku lebih tertarik bercerita tentang suamiku.

Tentang lelakiku dan impiannya.
Sekitar bulan Pebruari lalu, gak da angin gak da hujan tiba-tiba dia bilang, "Bu, abah ikut PDW tahun ini ya.." aku cuma jawab terserah karena ya kupikir celoteh aja, toh dia juga lagi fokus sibuk merawat adenya yang masih luka kaki saat Diklat pencinta alam di kampusnya. Intinya, omongannya pagi itu gak aku anggap serius.

Beberapa hari berlalu, dia pulang ke rumah pake sepatu ceko (sepatu boots kulit hitam yang biasa dipake tentara). Kalo sepatu aja langsung beli, aku mulai sadar dia gak main-main. Lalu kami bicara serius tentang itu. Karena buat aku PDW gak gampang, pelaksaannyapun gak sebentar, 40 hari. Materi, mental, fisik benar-benar diuji.
Tapi dia meyakinkan dia bisa, dan toh katanya jika dia gak layak ikut PDW di seleksi masuk nanti dia gak akan lolos. Okelah kalo begitu aku setuju.

Kalian tau??? Sejak saat itu setiap hari dia pake sepatu cekonya. Dia lari tiap pagi, dia long march, dia renang rutin tiap minggunya. Oh my good, aku luluh dan dukung seratus persen.

Tiba minggu seleksi dia berangkat dan aku mewek. Dia seleksi 7 hari. Aku bingung kalo gagal kasian banget usahanya selama ini, kalo lolos aku harus siap ditinggal 40hari.. Akhirnya minta diberi yang terbaik oleh Allah..
Nunggu dari seleksi sampai pengumuman hasil itu sekitar 1 bulan, arrggghh itu rasanya lamaaaa gak sabar!!!

Hari pengumuman tiba, kita standby depan komputer. Dan taraaaaa!!!! Namanya ada di list peserta lolos :D aku jijingkrakkan tapi suami enggak, dia pucat pasi tangan gemeter.. hahahaha...

Ristiani
16 Agustus 2014

Jumat, 15 Agustus 2014

Tata Cara Mandi "Besar" Junub untuk Muslimah

Setiap perempuan yang sudah baligh, tentu saja akan mendapatkan siklus bulanan yang tetap, menstruasi. Selesai menstruasi, seorang Muslimah diwajibkan mandi junub atau masyarakat kita menyebutnya mandi besar. Untuk yang sudah menikah, mandi junub sepertinya hampir tidak mungkin dilakukan satu bulan sekali. Mungkin sepekan sekali, atau bisa saja sehari sekali. Hehe...
Nah, bagaimana seorang Muslimah harus melakukan mandi junub?

Berikut ini, ringkasan tata cara mandi junub seorang Muslimah yang disunnahkan :

1. Niat (Menurut para ulama niat itu tempatnya di hati).

2. Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.

3. Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.

4. Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah (atau lantai) atau dengan menggunakan sabun.

5. Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.

6. Menyiramkan air ke atas kepalanya tiga kali.

7. Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut atau kulit kepala dengan menggosok-gosokkannya dan menyela-nyelanya (Tidak wajib bagi wanita untuk mengurai ikatan rambutnya).

8.  Mengguyur air ke seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.

Sementara untuk mandi karena haidh dan nifas, tata caranya sama dengan mandi junub namun ditambahkan dengan beberapa hal berikut ini:

Pertama: Dianjurkan Menggunakan Sabun.

Hal ini berdasarkan hadis Aisyah radhiallahu ‘anha, yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi wanita haid. Beliau menjelaskan:

“Kalian hendaklah mengambil air dan daun bidara, lalu wudhu dengan sempurna. Kemudian  menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya agak keras hingga mencapai akar rambut kepalanya. Kemudian menyiramkan air pada kepalanya. Kemudian engkau mengambil kapas bermisik, lalu bersuci dengannya.” (HR. Bukhari no. 314 & Muslim no. 332)

Kedua: Melepas gelungan, sehingga air bisa sampai ke pangkal rambut

Hadis di atas merupakan dalil dalam hal ini: “…lalu menggosok-gosoknya agak keras hingga mencapai akar rambut kepalanya..”

Hadis ini menunjukkan tidak cukup dengan hanya mengalirkan air seperti halnya mandi junub, namun harus juga digosok, seperti orang keramas memakai sampo.
Allahu alam

Kamis, 14 Agustus 2014

Syukur

Malam ini terbangun kaget, beberapa hari ini kondisiku memang sedang tidak baik, jadi sering bermimpi yang tidak kusuka. Biasanya aku meludah halus 3 kali ke arah kiri lalu beristighfar sampai terasa tenang.

Kulihat HP pukul 01.00.
Ada notifikasi messenger dari suami yang belum terbaca, ucapan selamat tidur..seperti biasa, manis.

Malam ini, sujudku basah.
Tidak, aku menangis bukan karena sendirian, bukan karena rindu suami, bukan.. Tangisku malam ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas segala anugerah luar biasa yang Allah berikan yang selalu memberi kemudahan dalam hidupku hingga detik ini.

Ya Rabb yang maha membolak balikan hati, terimakasih atas nikmat iman, teguhkanlah hatiku, pijakanlah kakiku lurus dijalan-Mu.

Ya Rabb yang maha mengasihi, terimakasih atas masih hangatnya kecup, atas masih panasnya cinta yang tumbuh semakin kuat antar sesama.

dan terima kasih Ya Allah Penentu Segala Alam, atas detak jantung yang masih berdetak di bawah hatiku.

..Alhamdulillah...

Ristiani
15 Agustus 2014

Day 1 "Hari Keberangkatan"

Malam tadi banyak sekali yang ingin aku katakan tapi mulutku hampir terkunci, yang bisa terucap hanya.."tolong peluk aku sepanjang malam.."

Pagi ini saat akan berangkat, matamu penuh kekhawatiran terhadapku, aku tahu karna matamu yg sedikit berair itu takkan pernah berbohong.
Berulang-ulang kamu katakan kamu menyayangiku..cukup kujawab iya karna aku tak ingin menangis.

Sayang...semoga 40hari ke depan nanti aku bisa melihatmu berdiri dengan gagah di Kawah Upas tanpa kurang satu apapun..

Sebanyak apapun dekap peluk, sesering apapun kecup cium,  selama apapun mempersiapkan diri, berpisah dengan orang terkasih tidak akan pernah jadi mudah..


Ristiani

14 Agustus 2014









Sabtu, 24 Agustus 2013

1 Tahun Bersama...

Sayang,
Jam di kamar sudah menunjukkan pukul 22.40, artinya dalam beberapa jam lagi, saya akan menjadi istrimu. Menjadi bukan sekadar teman tidurmu, tapi teman berbagi segala resah dan gelisah, bahagia, suka cita. Semuanya.
Sungguh, saya tidak menyangka akan se-deg-deg-an ini. Saya pikir, ketika saya sudah mempersiapkan semuanya dengan rapi, saya bakal luput dari perasaan gelisah seperti malam ini. Itu yang tadinya saya pikir, karena kenyataannya, saya lupa kalau hati bisa bergejolak sewaktu-waktu. Mendadak saya merasa deg-degan, getaran yang lebih hebat dari yang saya prediksi sebelumnya.
Mendadak saya ingin teriak, “WWWWOOOOIIIIII! Besok aku kawin!”

Ah, Sayang.......
Saya sudah tidak sabar untuk memulai petualangan hidup bersamamu. Sampai jumpa besok, ya...
Allah melindungi tidurmu dan perjalananmu menuju rumah saya, esok pagi. Amin.
==============================================================================================

:: iseng-iseng baca notes satu tahun yang lalu...saat saya sedang dalam masa galau menanti akad nikah esok harinya..
aaahhhh....indahnya ^__^

Hari ini tepat satu tahun kita bersama dalam ikatan sakral, rasanya baruuuuu kemarin. Dan saya sangat mensyukuri tiap hari, jam, menit, detik yang saya lewati sebagai istri..

Sayang, saya adalah perempuan beruntung karena akan menjadi seorang istri dari lelaki yang paling bisa menyempurnakan ketidaksempurnaan saya.

I love you, Fauzi Rahmat Hidayat.
Saya mencintaimu, lebih banyak dari yang kamu tahu....

Sabtu, 17 Agustus 2013

Adab Bercanda yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana yang diriwayatkan dlm beberapa hadits yang menceritakan seputar bercandanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Aku belum pernah melihat Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan amandelnya, namun beliau hanya tersenyum.” (HR. Bukhari & Muslim)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pun menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dgn sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad. Sanadnya Shahih)

Adapun contoh bercandanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bercanda dgn salah satu dari kedua cucunya yaitu Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya bercanda dgn Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu. Ia pun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dgn riang gembira.” (Lihat Silsilah Ahadits Shahihah, no hadits 70).

Jumat, 19 Juli 2013

Televisi-mu, Harimau-mu



Apa cuma saya yang pas sahur iseng banget nyalain televisi sekedar nonton lawak pukul-pukulan, main siram tepung, saling menghina fisik antar pelawak? Saya gak tau lucunya dimana, tapi ya tetep aja di tonton buat sekedar di komentarin misalnya..he! Kadang-kadang suka mikir, sejak kapan ya penderitaan orang lain jadi bahan tertawaan, sejak kapan menghina fisik orang lain jadi bahan lelucon?
 " pemainnya udah pada ikhlas kok digituin, namanya juga kerjaan...."
oke! tapi pernah mikir gak gimana dampaknya untuk yang nonton? apalagi kalau yang nonton masih anak-anak. Ngeri deh rasanya, anak-anak gampang banget terpengaruh.

Kemarin sempet baca artikel yang isinya KPI, memberi peringatan untuk acara sahur di beberapa stasiun televisi. 
Komisi Penyiaran Indonesia Pusat memberikan teguran tertulis untuk acara-acara Ramdhan di televisi. Program acara tersebut adalah Hafidz Indonesia RCTI, Sahurnya OVJ Trans 7, Sahurnya Pesbukers ANTV, dan Yuk Kita Sahur Trans 7.
Pada Program “Hafidz Indonesia” (selanjutnya disebut program) yang ditayangkan oleh stasiun RCTI pada tanggal 9 Juli 2013 pada pukul 14.54 WIB. Pelanggaran yang dilakukan program adalah penayangan secara close up seorang anak yang tampak buang air kecil saat ia menjadi peserta program tersebut. Kamera menyorot celana anak tersebut yang tampak basah. Jenis pelanggaran ini dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap perlindungan anak dan norma kesopanan.
Pada Program Siaran “Sahurnya Pesbukers” (selanjutnya disebut program) yang ditayangkan oleh stasiun ANTV  pada 10 Juli 2013 mulai pukul 01.56 WIB. Pelanggaran yang dilakukan adalah penayangan adegan yang melecehkan orang dan/atau masyarakat dengan kondisi fisik tertentu serta pelanggaran terhadap norma kesopanan. Adegan-adegan tersebut adalah:
  1. Sapri berkata kepada Andika yang menggendong Daus Mini “Tadi gue lihat lu bawa monyet tiga, sekarang tinggal satu”.
  2. Eko berkata tentang Daus Mini, “Ganteng-ganteng dibilang monyet… Itu bukan monyet … (tapi) nying-nying”.
  3. Eko menyebut  Daus Mini, “Ini bukan catur. Ini biji congklak”.
  4. Andhika berkata kepada Eko, “Daus kalo lihat ini suka sedih (sambil menunjuk corong). Inget zaman lahirnya dulu. Nyokapnya nggak nyampe ke bidan akhirnya lahirnya pake corong jadinya keluarnya kecil”.
  5. Andhika berkata kepada Gading tentang Daus, “Dia bingung. Orang dari dulu ngga pernah gede, kok lu tanyain kalo udah gede mau jadi apa?” Gading menyambung, “Daus kalau tetap kecil mau jadi apa?”
  6. Andhika berkata tentang Daus, “Daus itu hidupnya sial banget ya! Udah tua, kecil, ketiban banci lagi.”
Pada Program Siaran “Sahurnya Pesbukers” (selanjutnya disebut program) yang ditayangkan oleh stasiun ANTV  pada 10 Juli 2013 mulai pukul 01.56 WIB. Pelanggaran yang dilakukan adalah penayangan adegan yang melecehkan orang dan/atau masyarakat dengan kondisi fisik tertentu serta pelanggaran terhadap norma kesopanan. Adegan-adegan tersebut adalah:
  1. Sapri berkata kepada Andika yang menggendong Daus Mini “Tadi gue lihat lu bawa monyet tiga, sekarang tinggal satu”.
  2. Eko berkata tentang Daus Mini, “Ganteng-ganteng dibilang monyet… Itu bukan monyet … (tapi) nying-nying”.
  3. Eko menyebut  Daus Mini, “Ini bukan catur. Ini biji congklak”.
  4. Andhika berkata kepada Eko, “Daus kalo lihat ini suka sedih (sambil menunjuk corong). Inget zaman lahirnya dulu. Nyokapnya nggak nyampe ke bidan akhirnya lahirnya pake corong jadinya keluarnya kecil”.
  5. Andhika berkata kepada Gading tentang Daus, “Dia bingung. Orang dari dulu ngga pernah gede, kok lu tanyain kalo udah gede mau jadi apa?” Gading menyambung, “Daus kalau tetap kecil mau jadi apa?”
  6. Andhika berkata tentang Daus, “Daus itu hidupnya sial banget ya! Udah tua, kecil, ketiban banci lagi.”
 Pada Program Siaran “Yuk Kita Sahur” (selanjutnya disebut program) yang ditayangkan oleh stasiun Trans TV   pada tanggal 12 Juli 2013 mulai pukul 01.57 WIB. Pelanggaran yang dilakukan adalah penayangan adegan yang melecehkan orang  dan/atau masyarakat dengan kondisi fisik tertentu, pekerjaan tertentu serta orientasi seks dan indentitas gender tertentu, dan pelanggaran terhadap norma kesopanan. Adegan-adegan tersebut adalah:
  1. Wendi menari dan menyanyi dengan pakaian perempuan sambil memainkan lidah. Deni kemudian berkata kepada Wendi, “Lu jangan sok cantik ye. Dandanan lu kaya biduan pantura.” Wendi menjawab, “…kalau saya kayak biduan pantura, abang godain saya berarti abang supir truk.”
  2. Deni berkata kepada Olga, “Lu ngeliat burung malah demen…, ajak ngobrol, lu piara”.
  3. Olga menyebut Adul “burung cebol”.
  4. Olga mengolok-olok penonton wanita yang bergigi tonggos, menyamakannya dengan paruh boneka burung.  Kemudian Wendi bertanya tentang perempuan tersebut, ”Eh jadi itu burung yang selama ini ngerusak padi gua?”  Olga menjawab “Itu burung paling enak kalau makan kuaci. Makan kuaci ambil brek..” Olga kemudian memperagakan memakan dengan menonggoskan giginya.
  5. Olga berkata kepada Jeremi Teti, “Udah tua masih ngondek aja”.
sumber: http://news.fimadani.com/read/2013/07/19/kpi-pusat-berikan-teguran-acara-acara-ramadhan-di-tv/

tuuuuuhkaaaaaaaaaan ngeri banget lawakan mereka! padahal itu cuma sebagian kecil yang disebutkan karena buanyak banget pelanggaran. Ya iyalaaah orang sepanjang acara mereka kerjaannya kalau gak cela-celaan ya main fisik. Tapi peringatan tinggalah peringatan..buktinya barusan saya nonton lagi masih sama-sama aja gak da perubahan. Karena memang kuncinya sebenarnya ada pada kita selaku penonton. Kalau rating penontonnya tinggi ya pihak stasiun televisi seneng donk, makanya suruh lanjut aja.

Kita harusnya sekarang lebih pintar dalam memilih tontonan terutama untuk anak-anak. Dampaknya memang tidak terasa secara langsung, tapi akan mulai terlihat saat dia bergaul di masyarakat. Saat saya masih mengajar dulu, siswa-siswa seolah tanpa beban terbiasa mendiskriminasi teman-temannya yang memiliki kekurangan dari segi fisik misalnya. yang menyebabkan anak tersebut minder dan semakin tidak percaya diri.

Jangan biarkan rasa empati dan saling menghargai menguap menghilang begitu saja dari diri anak-anak kita atau bahkan diri kita sendiri. Ini bukan untuk acara sahur saja, masih banyak tontonan aneh lainnya. Sinetron remaja , cerita anak-anak yang mulai gak masuk akal, banyak lah.

Seleksi apa yang anda atau anak-anak anda tonton dan batasi frekuensi menonton televisi sehari maksimal 1,5 jam.

Semoga penonton Indonesia semakin lebih cerdas....



Wherever we go, keep bring our own sunshine!

Mengajar adalah hobby saya sejak dulu. Kalau tidak, manamungkin saya berani mengambil jurusan keguruan saat kuliah dulu. Menghadapi perilaku anak yang berbeda memberikan warna tersendiri yang terkadang membuat saya lupa bahwa ada masalah yang merudung saya.Tapi lantas jika akhirnya saya kemudian memutuskan untuk keluar dari pekerjaan saya sekarang, bukan berarti saya sudah tidak mencintai profesi saya. Mungkin banyak yang mengira saya sudah gila. Memutuskan untuk resign ketika rekan kerja sudah mulai mempercayai kemampuan saya. Mungkin selain gila, banyak yang mengatakan saya sombong karena telah menghentikan jalan menuju profesi yang diidamkan hampir sebagian besar masyarakat Indonesia, jadi PNS. Tetapi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu. Jauh dari lubuk hati yang paling dalam, tiba-tiba saya merasa jadi atau tidaknya saya menjadi PNS tidak akan ada artinya kalau saya memaksakan diri mengerjakan pekerjaan saya dengan tanpa disertai passion dan semangat melakukannya.

Sempat saya bertanya. Bagaimana mungkin sebuah passion atau hobby itu bisa hilang? Kalau bisa hilang, pantaskah itu disebut passion?
Percayalah, ada masa dimana kita dalam melakukan sesuatu mengalami sebuah limitation. Ambang batas. Entah itu batas waktu, batas kreatifitas atau malah batas kesabaran!  Apa yang awalnya kita lakukan dengan senang hati, tiba-tiba berubah menjadi tidak lagi menyenangkan untuk dilakukan karena begitu banyak keterbatasan dalam memaksimalkan kemampuan yang kita miliki.  Buang-buang energi sekali. And I’m too tired for that. Saya tidak mau terlalu lama menjadi orang yang berpura-pura seolah-olah semua baik-baik saja, tetapi di belakang berbicara sebaliknya. Menurut saya, bekerja itu adalah ibadah. Untuk apa kita tetap beribadah, kalau kita masih selalu saja melakukah hal-hal yang negatif, misalnya membicarakan kejelekan pimpinan kita, ketidakjujuran dalam bekerja atau malah mencela berbagai kebijakan lembaga yang ‘membayar’ kita? Itu sama saja seperti kalau kata teman saya bilang, ibarat “meludah di sumur yang airnya kita minum sendiri”.
Beberapa orang teman sempat mengira saya sudah memiliki pekerjaan di tempat lain dengan gaji yang jauh lebih besar. Saya sih hanya mengamini saja. Saya anggap itu sebuah doa. Karena pada kenyataannya, saya tidak akan ngantor dimana-mana. Pertama, karena saya masih enggan bertemu lagi dengan yang namanya office hour. ^_^. Kedua, karena tanpa saya sadari, otak dan hati saya langsung bergerak tanpa diminta, untuk mencari berbagai passion baru untuk segera diwujudkan seperti akan meneruskan usaha orang tua saya untuk berdagang karena rasanya mereka cukup tua dan sudah waktunya menikmati waktu dengan tidak memikirkan pekerjaan. Dan ternyata, banyak sekali yang ingin saya lakukan! kursus menjahit, menyulam, handcraft, banyak!  Saya sudah pasti tidak akan meninggalkan dunia mengajar secara penuh. Ibarat sebuah keran air, saya tidak akan menutupnya secara total. Tapi saya ingin membuka keran yang baru yang sama serunya.

Saya masih ingin memaksimalkan kemampuan untuk menjadi pengajar yang lebih baik, bahkan saya masih ingin kembali lagi belajar agama, kajian yang selama ini sudah saya lupakan. Terdengar lebai, ya? Hehehe. Tapi dengan memberikan waktu lebih bagi hati dan otak saya untuk saling berkomunikasi seperti sekarang ini, saya jadi semakin tahu betapa banyak hal dan kreatifitas yang bisa saya lakukan dibanding hanya berkutat dengan jam kerja dan rutinitas harian seperti yang selama ini saya lakukan. Begitu banyak possibilities di dunia ini yang sayang kalau hanya dilalui dengan begitu-begitu saja.
Itulah kenapa, saya berani untuk membuat keputusan itu. Saya yakin, ketika kita sudah jujur dengan diri kita sendiri, pasti akan dimudahkan jalan. Saya yakin, wherever we go, if we keep bring our own sunshine, kita akan bisa membuat setiap tempat yang kita datangi menjadi menyenangkan. Orang-orang pertama yang saya ceritakan tentang keputusan saya itu, semuanya justru sangat mendukung dan bersedia membantu apapun yang saya butuhkan walaupun sampai sekarang saya bahkan belum bisa menunjukkan hasil dari keputusan saya itu. Apakah saya akan jauh lebih sukses dari sekarang, atau sama saja, atau malah lebih parah : gagal total. Tapi mereka melihat sebaliknya. Keberanian untuk membuat sebuah keputusan itu somehow jauh lebih terasa berharga . Tinggal bagaimana nanti kelanjutannya, itu satu hal yang lain lagi.

Saya pikir, ini semua memang rencana Allah untuk saya. Setiap orang pasti memiliki masa-nya masing-masing untuk membuat sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Dan untuk saya, mungkin saat itu adalah sekarang. Tidak usah takut. Rejeki itu ada dimana-mana. Dan rejeki Allah itu tidak akan pernah batal. Biasanya, hanya tertunda saja datangnya. Karena untuk semua hal, ada waktunya masing-masing. Percaya saja, kalau kita meminta, Allah pasti memberi. Itulah kenapa kita berdoa, bukan? Namun jangan lupa, inti dari berdoa sebenarnya bukan hanya meminta. Kita meminta, tetapi juga melakukan segala usaha untuk bisa mewujudkannya.


Saya ingat sekali, dua tahun lalu saya memutuskan untuk bergabung di tempat saya bekerja ini, karena saya melihat adanya kesempatan dan saya merasa dimudahkan sekali oleh Allah tempat mengajar saya hanya berjarak sekitar 20 meter dari rumah dan sangat diidam-idamkan oleh orang lain. Menyesalkah saya bekerja selama 2 tahun ini disana? Sama sekali tidak. Bangga bisa mencoba menjadi bagian sebuah lembaga yang bergengsi di sini. Banyak pengalaman-pengalaman lain yang saya dapatkan. Dapat teman baru, keluarga baru adalah salah satu yang sangat saya syukuri. Walau dari berbagai sisi pencapaian kinerja mungkin belum maksimal, tetapi buat saya, itu bukan sebuah kegagalan. Because I simply don’t believe in a failure. It’s not a failure if we enjoyed all the process.